Sabtu, 17 Juli 2010

KITA HARUS MENJADI EDELWEISS!!




Edelweiss pasti rekan-rekan semua sudah banyak mengenal nya , ya bunga edelweiss atau bunga abadi sepintas jika rekan-rekan searching atau benar-benar melihatnya langsung mata kita semua akan terpana terpesona melihat keindahannya. Memang konon bunga yang sering menjadi lambing cinta ini adalah bunga yang indah. Tumbuhan yang banyak terdapat di daerah pegunungan. Ini hanya dapat tumbuh di daerah dataran tinggi. Edelweiss mempunyai nama latin, yaitu Anaphalis javanica. Tumbuhan ini dapat mencapai ketinggian 8 m dan memiliki batang sebesar kaki manusia. Saat ini, tumbuhan Edelweiss sudah menjadi tumbuhan langka karena ia sering dipetik atau diambil oleh para pendaki gunung yang tertarik dengan kecantikan bunga tersebut. Bunga Edelweiss sering juga disebut bunga abadi karena setelah dipetik Edelweiss tidak layu.
• Kenapa menjadi edelweiss ??
Banyak yang bisa kita ambil dari ayat-ayat kauniyah allah terutama yang satu ini bunga edelweiss,, bunga yang mekar antara bulan juli dan September ini memiliki beberapa kelebihan yang menurut saya patut kita contoh. Dia (red: edelweiss) memiliki penyebaran bunga yang unik dan aneh daripada yang lainnya . bunga ini lebih menyukai daerah yang berbatu dan berkapur. Di dunia ini banyak yang menghindari jalan yang susah tapi bunga ini tidak dia memilih jalannya dan jalan ini adalah beda dan menurut saya daerah yang berbatu dan berkapur bukan lah daerah yang bagus dan ideal untuk bunga semacam ini. Seharusnya bunga seperti ini di rawat dengan indah di dalam pot bersih ataupun taman berkaca. Yang bias dilihat oleh orang banyak dalam pesta dan pernikahan mungkin. Daerah yang berbatu ya saya gambarkan adalah daerah yang tidak diperuntukan sebagai daerah yang bagus untuk kita menenangkan diri tapi bunga ini melengkapinya dengan keindahan yang iya pancarkan. Lalu daerah berkapur yang menurut ilmu yang saya dapat mengandung calcite atau CaCO3 pada ketinggian 2000-2900m. Edelweiss adalah satu dari dari beberapa tumbuhan yang bias bertahan didaerah ini dia banyak bermanfaat karena mampu membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang secara efektif memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara. Wah sangat banyak sekali manfaatnya ini baru setengah kawan ada lagi yang membuat saya iri dengan bunga ini yaitu lebih dari 300 jenis serangga seperti kutu, tirip, kupu-kupu, lalat, tabuhan, dan lebah terlihat sering mengunjunginya. Bunga ini juga tidak beracun, dan sudah digunakan sebagai obat tradisional untuk melawan penyakit yang berhubungan dengan perut (pembedahan perut) dan penyakit yang berhubungan dengan pernapasan. Saya mencoba menyimpulkan sedikit saja : Jadilah seperti edelweiss yang indah bukan karena keindahan mahkotanya tetapi dia bisa beradaptasi dengan lingkungan yang tidak biasa , memberi manfaat untuk banyak orang yang mungkin orang lain butuhkan. Menjadi pusat perhatian dengan pengaruhnya terhadap lingkungan tempat dia berada. Mempunyai banyak warna yang dijadikan alat mempersatukan pikiran dikala hati tiap perorangan sedang tak tenang. Dialah edelweiss sang BUNGA ABADI…

SEMOGA KITA SEMUA MENJADI ABADI BUKAN KARENA MATERI APA YANG TELAH KITA BERIKAN PADA DUNIA INI TETAPI KARENA ATAS MANFAAT DAN PENGARUH POSITIF YANG KITA BERIKAN UNTUK MENGUBAH DUNIA INI ……
Saya hanya seorang yang abnormal di sebuah keadaan yang normal…mencoba mencari sesuatu yang beda dari kenormalan yang ada…


Bunga ini bisa tumbuh mencapai ukuran 3-20cm (dalam perawatan dan pengembangan bisa mencapai 40cm). Daun yang muncul nampak seperti WOOL karena tertutup oleh BULU-BULU yang PUTIH.
Bunga ini mekar antara bulan JULI dan SEPTEMBER . Dan uniknya penyebaran bunga ini lebih menyukai daerah berbatu dan berkapur pada ketinggian 2000-2900m.
Bunga ini biasanya tumbuh di lokasi yang tidak terjangkau, yang mana ini banyak terjadi di negara Slovenia dengan pegunungannya . Karena warna PUTIH-nya maka Switzerland menjadikannya sebagai simbol ke-MURNI-an dan ke-CANTIK-an, sehingga bangsa ROMANIA menyebutnya sebagai, floarea reginei (Queen's flower).

Sabtu, 03 Juli 2010

MANAJEMEN ORGANISASI

A. PENGERTIAN MANAJEMEN
Ada banyak sekali rumusan atau definisi tentang manajemen yang sampai sekarang belum ada kesepakatan antara para ahli. Disini dapat dikemukakan dua rumusan sederhana, yaitu:
1. Marry Barken Follet
Manajemen adalah seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini ada, di mana dalam kenyataannya bahwa seorang manajer (pemimpin) dalam usaha mencapai tujuannya dengan rangkaian berbagai cara yang kemudian dilaksanakan oleh orang-orang yang berada di bawah bimbingannya.
2. DR. Winardi
Manajemen adalah merupakan suatu proses yang khas yang terdiri dari aktivitas perencanaan, pengorganisasian, menggerakkan dan pengawasan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan memanfaatkan sumber daya organisasi (manusia dan alam).

Dari rumusan di atas, maka dapat kita pahami bahwa:
• Manajemen adalah merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan.
• Manajemen adalah merupakan tindakan seni.
• Manajemen mempunyai unsur-unsur yang sering disebut dengan fungsi manajemen, yaitu Perencanaan, Pengorganisasian, Menggerakkan, dan Pengawasan (POAC; Planning, Organizing, Actuating, Controlling)
• Diagram yang menunjukkan definisi di atas, adalah:









B. PENGERTIAN ORGANISASI
Organisasi sebenarnya adalah suatu makhluk hidup. Mengapa? Karena organisasi adalah kumpulan manusia, manusia yang bersatu untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu kita tidak bisa memandang organisasi sebagai benda mati yang bisa diperlakukan seenaknya. Diperlukan suatu perawatan khusus agar organisasi tetap hidup dan berkembang. Berangkat dari pemikiran itu, prinsip-prinsip manajemen organisasi sesungguhnya adalah manajemen orang-orang didalamnya.
SDM merupakan factor paling penting dalam keberlangsungan hidup organisasi. Manusia adalah pendiri, perancang, pekerja, pengamat, pengkritik, pemutus suatu organisasi. Tanpa mereka tidak ada organisasi.
C. FUNGSI MANAJEMEN
Pada dasarnya fungsi manajemen ini adalah merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipecah-pecahkan, baik dakam action-nya atau operational-nya maupun dalam cara memahaminya. Namun dalam pembahasan tentang fungsi-fungsi manajemen ini akan dibakukan secara parsial, dengan maksud untuk memberikan intensitas pengertian yang gak mendalam tiap unsurnya.


1) PERENCANAAN (PLANNING)
Perencanaan (Planning) yaitu menentukan terlebih dahulu serangkaian tindakan untuk mencapai tindakan yang diinginkan (Louis A. Allen)
Jadi perencanaan adalah merupakan keputusan yang diambil di muka dengan disertai keputusan mengenai tindakan apa yang akan dilakukan, kapan, bagaimana, dsb. Oleh karena itu menurut BESHLINE, setiap pertanyaann harus memberikan jawaban atas pertanyaan 5W + 1H, yaitu:
 What (apa) : menayngkut tentang tujuan
 Why (mengapa) : menjelaskan mengenai pemilihan tujuan
 When (kapan) : menjelaskan tentang waktu
 Where (di mana) : menjelaskan tentang tempat
 Who (siapa) : menjelaskan pelaksanaannya
 How (bagaimana) : menjelaskan teknis/cara pencapaian tujuan
Unsur-unsur yang harus ada dalam suatu perencanaan:
 Tujuan yang ingin dicapai
Tujuan ini dapat bersifat material seperti memperoleh laba dan dapat pula bersifat moral seperti meningkatkan keahlian/keterampilan.
 Politik atau kebijaksanaan
Yaitu menyangkut tentang kebijaksanaan yang diambil dalam menjalankan rencana, termasuk kebijaksanaan bilamana terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan rencana ketika dioperasionalkan.
 Prosedur
Yaitu langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan.
 Anggaran/Budget
Yaitu mengenai anggaran atau pendanaan meliputi sumber dana dan penggunaannya.
 Program
Yaitu kumpulan aktivitas yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan.
2) PENGORGANISASIAN (ORGANIZING)
Pengorganisasian adalah menentukan dan mengelompokkan berbagai kegiatan yang akan dilakukan dalam mencapai tujuan, memberikan tugas, wewenang dan tanggung jawab serta mengatur hubungan koordinasi antara setiap personalia/pelaksana.
Hasil dari pengorganisasian ini adalah organisasi baik dalam arti statis maupun dinamis. Organisasi dalam arti statis adalah lembaga/wadahnya, dan organisasi dalam arti dinamis adalah mekanisme atau tata kerja yang hidup dalam organisasi.
Kegiatan pengorganisasian meliputi langkah-langkah sebagai berikut:
Penentuan tujuan dengan jelas
Departemenisasi ( pengelompokan pekerjaan)
Yaitu membuat kelompok-kelompok pekerjaan yang sejenis atas alasan tertentu.
Pembagian kerja
Yaitu mendistribusikan pekerjaan yang dipecah-pecah menjadi kecil-kecil sehingga mudah dikerjakan oleh setiap orang kepada personalia yang ada.
Pelimpahan wewenang
Yaitu mendistribusikan wewenang kepada personalia yang diberikan tugas. Tanpa adanya pelimpahan wewenang ini, maka bawahan/pelaksana akan mengalami kesulitan dalam menjalankan tugasnya dengan baik.
Rentangan Kontrol
Yaitu menciptakan hierarki organisasi yang realistis dan efektif sehingga semua aktivitas dapat dipantau oleh atasan dengan baik.
Kesatuan Perintah
Yaitu seorang bawahan/pelaksana hanya mempunyai satu alasan darimana ia diperintah dan kepadanya ia memberikan pertanggungjawaban.
Koordinasi
Yaitu usaha mengerahkan dan menciptakan keselarasn pada semua aktivitas yang dilaksanakan sehingga dapat menunjang pada pencapaian tujuan.

3) MENGGERAKKAN (ACTUATING)
Adalah usaha menggerakkan anggota organisasi agar mau bertindak dan bekerja sama dalam mencapai tujuan organisasi. Dalam manajemen unsure/fungsi ini adalah fungsi yang strategis dan kompleks karena fungsi ini adalah merupakan aktivitas yang secara langsung berhubungan dengan orang per orang; yaitu usaha untuk mempengaruhi orang lain agar bersedia untuk suka rela atau terpaksa untuk mencapai tujuan organisasi.
Strategis semua objek dari fungsi ini adalah manusia secara langsung, di mana factor manusia adalah factor yang strategis dan dominan dalam menentukan kehidupan organisasi.
Kompleks manusia merupakan makhluk hidup yang penuh dengan ketakterdugaan, mempunyai perbedaan yang sangat heterogen serta mempunyai motivasi yang sangat beragam.
Seorang manajer/pemimpin agar mampu mempengaruhi dan menggerakkan anggotanya, maka ia harus menciptakan motivasi pada anggotanya. Dan untuk itu maka pemimpin harus mengetahui factor-faktor yang dapat mempengaruhi motivasi anggotanya. Factor-faktor tersebut yang paling mudah adalah mengetahui apa yang dituntut atau yang dibutuhkan oleh anggotanya. Dengan mengetahui ini maka pemimpin dapat memberikan rangsangan sesuai dengan motif anggota yang diselaraskan dengan pencapaian tujuan organisasi, sehingga anggota tetap mau bekerja dan tujuan organisasi dapat terpenuhi.
4) PENGAWASAN (CONTROLLING)
Adalah serangkaian aktivitas pengawasan guna menjamin tercapainya tujuan sebagaimana yang direncanakan. Jadi maksud adanya pengawasan ini adalah untuk menjamin bahwa kegiatan-kegiatan yang telah dipolakan dalam rencana akan dilaksanakan sebagaimana mestinya sesuai dengan rencana, dan apabila trejadi penyimpangan maka melalui mekanisme pengawsan ini akan dapat dicari jalan keluarnya yang tidak mengakibatkan lepasnya tujuan semula.
Secara geris besarnya, pengawasan ada 2 macam:
Pengawasan Preventif
Yaitu pengawasan yang dilakukan sebelum terjadinya penyimpangan atau kesalahan.
Pengawasan Represif
Yaitu pengawasan yang dilakukan setelah terjadinya penyimpangan atau kesalahan. Pengawasan ini kurang efektif dan banyak pemborosan.

Dalam melakukan pengawasan, seorang pemimpin dapat menggunakan cara:
Pengecekan laporan baik rutin maupun insidentil, lisan maupun tertulis.
Melakukan observasi lapangan secara rutin maupun dadakan.
 Dengan adanya pengawasan tersebut, maka diharapkan daoat tercipta suatu iklim yang terkendali dalam pelaksanaan pekerjaan dan pencapaian tujuan organisasi.
A. MANAJEMEN DALAM GERAKAN PRAMUKA
Gerakan pramuka sebagai organisasi kepanduan di Indonesia memiliki skala luas, untuk itu diperlikan suatu aturan-aturan yang mengatur tata cara berorganisasi secara berjenjang dari tingkat Gugus depan sebagai ujung tombak pengembangan organisasi sampai dengan Kwartir Nasional.
Ketua DA/DR/DK/DS idealnya harus selalu melaporkan kegiatan kepada pimpinan di atasnya. Pelaporan ini sebaiknya dalam bentuk tertulis dengan nota dinas yang ditandatagani oleh ketua. Dalam kegiatan DA/DR/DK/DS dapat menyusun suatu prosedur yang dapat dilakukan seperti:
1. melaksanakan rapat pleno
2. membentuk kelompok kerja
3. ketua DA/DK/DR/DS mengajukan usulan kepada pimpinan di atasnya untuk mendapatkan persetujuan.
4. setelah mendapat persetujuan dari pimpinan, maka sangker (panitia) dapat melaksanakan aktivitas sebagai berikut:
 melaksanakan koordinasi sangga kerja dan pembagian tugas
 melakukan koordinasi dengan pihak-pihak yang terkait
 melakukan sosialisasi kegiatan yang akan dilaksanakan
 menyelenggarakan kegiatan
 melaksanakan evaluasi setelah kegiatan dilaksanakan
 menyusun laporan kegiatan
5. monitoring kegiatan dilaksanakan baik oleh ketua sangga kerja maupun pimpinan
6. mengevaluasi kegitan yang telah dilaksanakan oleh sangga kerja lain
7. menyampaikan laporan pelaksanaan dan keuangan kegiatan pada pimpinan.

<>kekerasan dalam pendidikan<>

<> Tipologi Kekerasan dalam Pendidikan
Menurut Jack D. Douglas dan Frances Chalut Waksler, istilah kekerasan (violence) digunakan untuk menggambarkan perilaku, baik secara terbuka (overt) maupun tertutup (covert), dan baik yang bersifat menyerang (offensive) maupun bertahan (defensive), yang disertai penggunaan kekuatan kepada orang lain.
Dari definisi di atas, dapat ditarik beberapa indikator kekerasan: pertama¸ kekerasan terbuka yakni kekerasan yang dapat dilihat atau diamati secara langsung, seperti perkelahian, tawuran, bentrokan massa, atau yang berkaitan dengan fisik. Sebagai contoh adalah kasus pengeroyokan 4 siswa SMKI terhadap temannya Suharyanyo (17 tahun), siswa kelas tiga SMKI yang dianiaya hingga meninggal karena alasan dugaan penipuan order mendalang. Kedua, kekerasan tertutup yakni kekerasan tersembunyi atau tidak dilakukan secara langsung, seperti mengancam, intimidasi, atau simbol-simbol lain yang menyebabkan pihak-pihak tertentu merasa takut atau tertekan. Ancaman dianggap sebagai bentuk kekerasan¸ sebab orang hanya mempercayai kebenaran ancaman dan kemampuan pengancam mewujudkan ancamannya. Misalnya, kasus demonstrasi mahasiswa menolak SK Rektor UGM Yogyakarta tentang Biaya Operasional Pendidikan atau BOP, kedua belah pihak saling mengancam. Di satu sisi, pihak UGM akan melakukan sweeping KTP para demonstran, di pihak lain, mahasiswa mengancam akan melakukan demo besar-besaran.
Ketiga, kekerasan agresif (offensive) yakni kekerasan yang dilakukan untuk mendapatkan sesuatu seperti perampasan, pencurian, pemerkosaan atau bahkan pembunuhan. Indikator kekerasan ini sudah masuk prilaku kriminal, di mana pelakunya dapat dikenakan sanksi menurut hukum tertentu. Contohnya kasus pembobolan di Universitas Jember, pencabulan terhadap siswa SD atau SLTP, atau penembakan guru SD hingga tewas. Keempat, kekerasan defensif (defensive) yakni kekerasan yang dilakukan sebagai tindakan perlindungan, seperti barikade aparat untuk menahan aksi demo lainnya. Sengketa tanah warga dengan pihak sekolah, merupakan contoh yang relevan.
Dari sisi tingkat (level) kekerasan, intensitas suatu kekerasan bisa meningkat dari kekerasan ringan atau potensi menjadi kekerasan tingkat sedang bahkan dapat berlanjut pada kekerasan tingkat berat, berupa tindak kriminal dalam pendidikan. Kekerasan disebut dalam bentuk potensi, bilamana memiliki indikator sebagai berikut: bersifat tetutup, berupa unjuk rasa untuk menyampaikan aspirasi, pelecehan nama baik seseorang, dan ancaman atau intimidasi. Bila kekerasan tertutup berubah menjadi konflik terbuka, unjuk rasa berubah menjadi bentrok, ancaman berubah menjadi tindakan nyata, dan kekerasan defensif menjadi ofensif, maka saat itu juga potensi berubah menjadi kekerasan.
Meski demikian, kekerasan dalam pendidikan tidak selalu terjadi secara berurutan dari potensi (ringan), menjadi kekerasan (sedang), lalu tindak kriminal (berat). Bisa saja kekerasan yang berlangsung hanya sampai pada potensi saja, tidak berlanjut ke tingkat atasnya. Kadang terjadi kekerasan berbentuk tindak kriminal, tanpa didahului oleh potensi maupun kekerasan sebelumnya. Akan tetapi penelitian ini ditemukan bahwa pada kasus tertentu kekerasan ringan berlanjut menjadi kekerasan sedang, bahkan menjadi tindak kriminal.
Dari 6 surat kabar yakni Bernas, Kedaulatan Rakyat, Jawa Pos, Republika, Kompas, Suara Merdeka, yang dipilih secara acak (random sampling), ditemukan sebanyak 71 kasus potensi kekerasan atau tingkat ringan yang umumnya terjadi karena sebab tertentu yakni: masalah sistem Penerimaan Siswa Baru (PSB), masalah kenaikan biaya pendidikan, masalah demokratisasi dan transparansi, penyelenggaraan pendidikan, terutama di lingkungan kampus, masalah lingkungan dan sosial, masalah yang muncul secara spontan karena adanya momen tertentu, dan masalah lainnya.
Sedangkan kekerasan dalam kategori sedang, dalam penelitian ini, ditemukan 93 kasus yang sebagian besar muncul secara langsung tanpa didahului oleh kekerasan sebelumnya. Kasus ini berupa kekerasan antar pihak sekolah, kekerasan antar pelajar/mahasiswa, kasus kekerasan guru terhadap siswa dan sebaliknya, kekerasan pelajar terhadap guru, kasus kekerasan mahasiswa terhadap masyarakat dan sebaliknya, kekerasan masyarakat terhadap siswa.
Adapun kasus kriminalitas dalam pendidikan (tingkat berat) biasanya berkutat pada pencabulan, penculikan, pencurian, bahkan aksi pembunuhan. Siswi SD dan SLTP termasuk yang sering menjadi korban pencabulan yang acap kali dilakukan oleh pelaku yang sudah dikenal atau dekat. Sedang kasus penculikan dilakukan karena motif tertentu seperti permintaan uang tebusan. Aksi pencurian juga mewarnai kekerasan masyarakat kepada pihak sekolah/kampus. Sementara tindak kriminal berupa pembunuhan sebagaimana menimpa guru di Aceh yang mencapai 200 kasus dengan 50 korban meninggal dan 100 lainnya mengalami cacat fisik permanen dan kehilangan tempat tinggal karena rumahnya terbakar. Di kalangan pelajar dan mahasiswa, bentuk tindak kriminal yang sering terjadi adalah peredaran dan konsumsi narkoba sebagaimana yang terjadi di Sleman dan Yogyakarta.
<> Humanisasi Pendidikan
Mengingat bahwa pendidikan adalah ilmu normatif, maka fungsi institusi pendidikan adalah menumbuh-kembangkan subyek didik ke tingkat yang normatif lebih baik, dengan cara/jalan yang baik, serta dalam konteks yang positif. Disebut subyek didik karena peserta didik bukan merupakan obyek yang dapat diperlakukan semaunya pendidik, bahkan seharusnya dipandang sebagai manusia lengkap dengan harkat kemanusiannya.
Menurut Freire, fitrah manusia sejati adalah menjadi pelaku atau subyek, bukan penderita atau obyek. Panggilan manusia sejati adalah menjadi pelaku yang sadar, yang bertindak mengatasi dunia serta realitas yang menindasnya. Dunia dan realitasnya bukan “sesuatu yang ada dengan sendirinya”, dan karena itu “harus diterima menurut apa adanya”, sebagai suatu takdir atau nasib yang tak terelakkan. Manusia harus menggeluti dunia dan realitas dengan penuh sikap kritis dan daya cipta, dan itu berarti manusia mampu memahami keberadaan dirinya. Oleh karena itu, pendidikan harus berorientasi pada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri, dan harus mampu mendekatkan manusia dengan lingkungannya.
Adanya beberapa bentuk kekerasan dalam pendidikan yang masih merajalela merupakan indikator bahwa proses atau aktivitas pendidikan kita masih jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Di sinilah urgensi humanisasi pendidikan. Humanisasi pendidikan merupakan upaya untuk menyiapkan generasi yang cerdas nalar, cerdas emosional, dan cerdas spiritual, bukan menciptakan manusia yang kerdil, pasif, dan tidak mampu mengatasi persoalan yang dihadapi.
Dari beberapa literatur pendidikan, ditemukan beberapa model pembelajaran yang humanistik ini yakni: humanizing of the classroom, active learning, quantum learning, quantum teaching, dan the accelerated learning.Humanizing of the classroom ini dilatarbelakangi oleh kondisi sekolah yang otoriter, tidak manusiawi, sehingga banyak menyebabkan peserta didik putus asa, yang akhirnya mengakhiri hidupnya alias bunuh diri. Kasus ini banyak terjadi di Amerika Serikat dan Jepang. Humanizing of the classroom ini dicetuskan oleh John P. Miller yang terfokus pada pengembangan model
<> Dampak Psikologis Kekerasan Terhadap Siswa (Anak Didik)
Pengalaman masa lalu adalah salah satu tipologi psikologis dari seorang anak, jadi pengalaman masa lalu yang pernah didapatkan seorang anak baik kekerasan fisik, kekerasan mental, dan beberapa pengalaman pahit dialami semasa kecil akan terus berdampak pada saat dewasa. Dalam bukunya A Child Caled It, Dave Pelzer mengungkapkan tentang bagaimana kondisi psikologis dirinya merupakan pembentukan berdasarkan pengalaman psikologisnya di masa kanak-kanak. Dave menceritakan bagaimana kisah-kisah kekerasan yang dialaminya semasa kecil telah membentuknya sebagai pribadi yang “pincang”. Kekeresan selalu “melahirkan kekerasan”. Disadari atau tidak apa yang dilakukan dalam pendidikan tradisional telah membentuk psikologi sosial masyarakat Indonesia yang saat ini masih banyak dengan tindakan kekerasan dalam komunitas sekolah seperti perilaku guru terhadap murid, kakak kelas terhadap adik kelas (senior dan junior), dll.

Dampak yang akan muncul dari kekerasan akan melahirkan pesimisme dan apatisme dalam sebuah generasi. Selain itu terjadi proses ketakutan dalam diri anak untuk menciptakan ide-ide yang inovatif dan inventif. Kepincangan psikologis ini dapat dilihat pada gambaran anak-anak sekolah saat ini yang cenderung pasif dan takut berbicara dimuka kelas. Sedangkan dalam keluarga, anak yang sering diberi hukuman fisik akan mengalami gangguan psikologis dan akan berperilaku lebih banyak diam dan selalu menyendiri selain itu terkadang melakukan kekerasan yang sama terhadap teman main atau ke orang lain.
<> Peran Orang Tua dalam Pendidikan
Kurikulum apapun yang mencoba membangun generasi yang proaktif dan optimis tidak akan pernah efektif mencapai tujuannya apabila system hukuman fisik masih diimplementasikan dalam dunia pendidikan sekolah. Untuk itu ada solusi yang akan ditawarkan. Yakni adanya reposisi orang tua dalam mendidik anak dalam keluarga dan guru dalam mendidik murid di sekolah. Reposisi ini berupa perubahan signifikan pada paradigma masyarakat yang masih sering menggunakan hukuman fisik dalam mendidik. Selain itu juga perubahan untuk mulai menempatkan guru ataupun orang tua dalan posisi setara dengan pribadi seorang anak. Dengan membiarkan anak melakukan ekspresi dan melakukan keunikan-keunikannya sendiri maka akan membentuk mental yang bagus dan tidak apatis, keunikan anak disini tidak harus dipahami sebagai suatu kesalahan, melainkan suatu perkembangan anak itu sendiri. Kesadaran anak juga harus dibangun dengan sering mengajak berdialog dan menciptakan komunikasi yang hangat, dan bukan memberikan perintah-perintah dan larangan. Yang terpenting adalah membangun kepribadian untuk sering berpendapat dan mendengarkan pendapat-pendapat mereka. Dan sadarilah masa depan negeri ini ada ditangan anak-anak kita dan oleh karena itu peran orang tua dan guru sangat besar dalam menciptakan kepribadian seorang anak.

"prilaku organisasi"

 Pemikiran Sistem (Systems Thinking)
'Systems thinking' dapat membantu individu memahami kompleksitas organisasi yang timbul dari sebuah proses, peralatan, pelanggan, lingkungan kerja dan sebagainya. la memberi gambaran menyeluruh (the big picture) mengenai organisasi sebagai satu entiti kompleks yang mengandung berbagai bagian dan bagaimana bagian-bagian ini bergabung menjadi satu dan seterusnya bagaimana pula gabungan ini menjadi satu bagian dari satu sistem yang lebih besar. Berbeda dengan pendekatan 'reductionist' yang mengasingkan bagian-bagian itu yang dikaji dan dianalisis, pemikiran sistem tertuju pada interaksi antara bagian-bagian dalam sistem yang mempunyai bentuk perilaku. Ini bermakna bahwa dalam pendekatan ini, analisis akan mengembang untuk mengambil bilangan interaksi besar dan yang semakin membesar. Penemuan yang diperoleh terkadang akan sangat berbeda terutama dalam sistem yang kompleks dan dinamik, berbeda dengan analisis secara konvensional. Banyak masalah yang dihadapi sekarang adalah berbentuk kompleks, melibatkan banyak pihak.. Mengurus masalah-masalah ini tidak mudah serta memerlukan analisis 'the big picture'. Dan pemikiran sistem dapat membantu dalam hal ini.

 Komunikasi Interpersonal
Organisasi adalah sebuah sistem sosial dan kompleksitasnya jelas terlihat melalui jenis, peringkat, bentuk dan jumlah interaksi yang berlaku. Proses komunikasi yang begitu dinamik menimbulkan berbagai masalah yang menghambat tercapainya sebuah organisasi, terutama dengan timbulnya salah faham dan konflik.. Individu dalam organisasi harus faham bahwa interaksi antara individu adalah satu proses yang tidak dapat dielakkan. Kalaupun pesan diberikan secara langsung, hal demikian juga adalah satu bentuk pesan yang boleh diinterpretasikan. Komunikasi antara individu tidak boleh ditarik balik. Kalaupun usaha pembetulan diambil kemudian, kesannya akan terus terkenang dalam fikiran.
Komunikasi interpersonal bukan perkara mudah. Menurut para ahli ada delapan cara mendengarkan yang efektif jika ingin memperbaiki keterampilan mendengarkan :
 Lakukan kontak mata
 Peragakan anggukan kepala tanda setuju dan raut muka yang sesuai
 Hindari tindakan atau gerak tubuh yang mengalihkan perhatian
 Kemukakan pertanyaan
 Lakukan paraphrase atau menyatakan ulang apa yang telah dikatakan oleh si pembicara.
 Hindari menyela pembicaraan
 Jangan bicara berlebihan
 Buatlah peralihan yang mulus antara peran pembicara dan pendengar.
Komunikasi interpersonal juga berlaku secara kontekstual bergantung kepada keadaan, budaya, dan juga konteks psikologikal. Cara dan bentuk interaksi antara individu akan tercorak mengikut keadaan-keadaan itu.



 Kepribadian
Walaupun bentuk asas organisasi kekal, budaya organisasi dari segi falsafah dan cara berkerja telah melalui banyak perubahan. Pergerakan ke arah organisasi pembelajaran, penekanan kepada inovasi, penjelmaan teknologi serta proses integrasi berbagai bidang dan kebudayaan menuntut supaya individu dalam organisasi turut berubah dari segi sikap dan pemikirannya. Prinsip-prinsip yang diketengahkan oleh Stephen Covey (7 Habits of Highly Effective people) dapat dijadikan panduan. Walaupun prinsip-prinsip ini tidak boleh dianggap sesuatu yang baru semasa awal diterbitkan, namun kerangka pemikirannya bisa dicontoh dan disesuaikan.
Prinsip-prinsip yang dimaksud diantaranya ialah :
 Proaktif
 Fikirkan menang-menang
 Cuba memahami dahulu, kemudian coba untuk difahami
 Synergi atau bekerja sama
 Tajamkan gergaji
Sebagian dari prinsip-prinsip ini sudah jelas dan apa sebenarnya yang perlu dilakukan ialah pengamalan saja.
Cuma dua prinsip yang akan ditekankan di sini yaitu bersinergi dan tajamkan gergaji. Pertama, Sinergi dalam pengertian Covey ialah satu keadaan di mana keseluruhan lebih besar dari pada hasil tambahan lainnya. Covey menganggap sinergi sebagai kemampuan dalam mewujudkan hasil yang menakjubkan seperti hal-hal baru atau alternatif baru yang dahulunya tidak ada.
Dalam organisasi kesesuaian boleh berlaku antara individu dengan individu dan antara individu dengan kelompok dan sebagainya. Dalam konteks individu, kesesuaian boleh mencetus semua idea yang dapat menjurus kepada kelahiran idea, pendekatan, mekanisme, produk, proses dan peralatan baru. Kalaupun disesuaikan dengan pemikiran sistem seperti sudah pasti synergi berkemampuan mensejahterakan organisasi.
Kedua 'tajamkan gergaji'. Covey menyebutkan pencapaian keharmonisan dan kerseimbangan dalam empat dimensi berikut :
 Fizikal
 Mental
 Rohani
 Sosio-emosi
Bagi mental dilakukan aktivitas-aktivitas seperti membaca, perancangan, menulis dan visualisasi. Dimensi sosio-emosi pula menekankan kepada aspek-aspek kerjasama secara kreatif, kepimpinan dan komunikasi. Dimensi fizikal menentukan tahap kesehatan yang memungkinkan pelaksanaan dimensi-dimensi lain termasuk dimensi rohani. Menurut Covey, dimensi rohani kurang difikirkan walaupun banyak perilaku seseorang itu di pacu oleh nilai-nilai yang awal mulanya dari rohani. Cara dan bagaimana perkembangan dimensi dilaksanakan haruslah ditentukan oleh sistem-sistem kepercayaan yang dianut oleh individu.

 Pembelajaran Kolaboratif
Pembelajaran kolaboratif adalah satu kaedah yang bertujuan meningkatkan kemampuan pemikiran kritikal. Nilai utamanya terletak pada pembinaan pengetahuan dan idea melalui dialog satu sama lain, diskusi dan lain-lain. Ciri-ciri utamanya adalah interaksi aktif yang mengandung pertukaran idea yang menjurus kepada pembelajaran individu (melalui proses musyawarah), pembelajaran dari orang lain dan pembelajaran secara kelompok. Dalam konteks organisasi pembelajaran, pendekatan ini menghasilkan peningkatan kemahiran secara berkelanjutan. Hal-hal yang perlu dilalui oleh kumpulan individu untuk mendapatkan pembelajaran kolaboratif adalah :
 Membangun kesamaan
 Menumpu kepada minat dan yang berhubungan dengan isu-isu.
 Mengenal pasti situasi pelaksanaan
 Membahas langkah pelaksanaan
Berbeda dengan pembelajaran lain, pendekatan kolaboratif lebih bersifat terbuka yang menghargai kepintaran dan sumbangan fikiran kelompok. Terdapat pengkondisian dan penerimaan tanggungjawab di kalangan ahli. Pembelajaran kolaboratif bukanlah satu struktur, namun merupakan satu falsafah pembelajaran yang bisa diapplikasikan dalam berbagai situasi interaksi yang bertujuan mencapai synergi melalui pengkondisian dan sumbangan idea individu dalam kelompok

 Sinergi
Walaupun konsep synergi telah dijelaskan diatas namun, penggunaan konsep synergi di sini digunakan secara lebih luas. Sinergi berasal dari kata Greek 'synergia' atau 'synergos' yang berarti bekerja sama. Peter Corning ( Synergy and Self-Organization In The Evolution Of Complex Systems – www.complexsystems.org ) yang telah turut memperjelas fenomena, ini yang rata-rata berlaku dalam alam binatang, tumbuhan dan manusia. Pendek kata, fenomena ini berlaku secara meluas dalam berbagai bidang sains seperti kimia, fizika, biologi, dan sebagainya.
Menurut Corning, sinergi adalah kesan yang tidak dapat dicapai oleh individu Corning berbanding dengan Covey. Corning juga menyebut tentang sinergi positif dan negatif. Ini bermakna sinergi juga mampu melipatgandakan kesan-kesan buruk dalam keadaan tertentu.
Dalam hal ini Corning menyebutkan dua prinsip :
 Fenomena ‘threshold'(threshold phenomenon) dan
 Perkongsian kos dan resiko.
Fenomena 'threshold' adalah sinergi atau kesan yang berlaku apabila gabungan bagian-bagian mencapai satu tahap atau peringkat di mana satu kesan keseluruhan baru dapat terwujud. Di peringkat global peralihan dari era perindustrian sampai era informasi adalah satu contoh yang jelas. Penentuan tempat dan resiko juga adalah satu bentuk kerjasama sinergistik yang dapat dilihat dalam dunia hewan dan juga manusia. Dalam dunia hewan fenomena ini terlihat dalam aktivitas memburu secara kelompok dan migrasi secara kelompok. Kecenderungan ini dapat dilihat juga dalam masyarakat kita melalui gabungan seperti koperasi. Bentuk-bentuk sinergi yang terdapat dalam alam ciptaan dapat kita manfaatkan sebagai individu dan kumpulan individu supaya menghasilkan kesan yang berganda. Jika kita fahami bentuk-bentuknya sinergi bisa dibilang sebagai satu pencetus atau penggerak dalam organisasi.

 Perubahan Paradigma
Perkataan perubahan paradigma dipopularkan oleh Thomas Kuhn dalam tahun 1963 ( The Structure of Scientific Revolution – www. Taketheleap.com). Menurut Kuhn, kemajuan ilmiah bukanlah satu proses evolusi, tapi satu ciri yang dibentuk oleh revolusi intelektual. Dalam revolusi ini berlaku satu penggantian dalam tassawur atau konsep 'world view'. Definisi di sini lebih berdasar kepada paradigma sebagai model, pola atau cara kita melihat dan menilai satu realiti atau keadaan - satu set peraturan atau kerangka yang kita pegang. Apabila berlaku perubahan dalam paradigma, maka ini disebut sebagai satu perubahan paradigma. Dalam banyak aspek, kehidupan manusia telah banyak berubah. Perubahan ini telah di pacu oleh berbagai faktor seperti teknologi dan juga kemajuan di bidang sains. Perubahan- perubahan ini akan mencetuskan perubahan- perubahan lain seperti cara kita berkerja dan seterusnya menuntut penilaian kepada aspek-aspek kerja yang lain dan yang berkaitan. Pemikiran kita juga harus berubah agar membolehkan kita terus berfungsi seiring dengan tuntutan- tuntutan baru ini.
Di peringkat organisasi contohnya telah timbul keperluan organisasi menjadi sebuah organisasi pembelajaran yang beranggotakan individu berpengetahuan. Individu dalam organisasi perlu mengubah paradigma lama mengenai peranan mereka dalam konteks peranan baru ini yang memerlukan pembudayaan pengetahuan. Pemesatan dan perubahan di bidang atau peringkat lain yang sekaligus mempengaruhi organisasi dan individu seperti ilmu ekonomi, perdagangan elektronik dan sebagainya akan menuntut penilaian semula kepada bentuk dan cara kita berfikir, dan bekerja.
Perubahan-perubahan lain dalam falsafah organisasi seperti keutamaan kepada pelanggan, kualitas, akuntability, budaya kerja dan lain-lain Dimana individu harus melihat kembali cara dan struktur pemikiran yang memperbolehkan pemindahan dan penyesuaian. Perubahan paradigma dalam konteks semua ini bermakna mengubah kerangka pemikiran kepada realiti-realiti yang dibawa oleh perubahan-perubahan ini serta bertindak mengikuti paradigma baru. Lebih baik lagi kalau individu dapat, melalui teknik-teknik tertentu seperti 'scenario building', 'extrapolation', analisis tren dan sebagainya.

:::oragnisasi:::

Setiap organisasi harus senantiasa berubah karena setiap zaman punya tantangan yang berbeda-beda. Dan ketika sebuah organisasi melakukan hal yang sama setiap zaman tanpa adanya sebuah perubahan maka organisasi itu akan kalah bersaing dengan organisasi pesaingnya dan akhirnya akan mati. Maka tidak heran ketika C.K. Prahalad berkata bahwa “if you don’t change, you die!”.
Sebuah perubahan menuntut konsekuensi adanya orang-orang yang punya pola pikir yang beda dari biasanya didalam organisasi itu. Mereka berbeda dengan orang-orang yang berpikir konstan/statis seperti golongan tua/konservatif yang ada didalam organisasi itu. Mereka itulah yang sering disebut dengan orang-orang yang kreatif. Biasanya antara orang kreatif dengan orang yang “aneh/gila/tidak waras” hampir dikatakan sama karena orang kreatif berpikir peluang yang terkadang tidak terpikirkan oleh orang lain. Kadang-kadang orang kreatif bisa terjadi juga pada orang-orang yang cerdas yang mengembangkan wawasannya dengan baik.
Mungkin muncul dibenak Anda sebuah pertanyaan, apakah orang-orang kreatif ini dapat dibentuk atau sudah ditakdirkan lahir di dunia ini? Saya menjawab bisa dibentuk. Kalau memang Tuhan telah menakdirkan lahirnya orang-orang kreatif di dunia ini, maka kita tidak akan menemukan seorang manusia jenius sekaliber Albert Einstein yang sulit berbicara sampai umurnya lima tahun, kita tidak akan menemukan orang-orang dengan berbagai kekurangannya bisa mencetak sebuah rekor dunia di dalam Guinness World Record, mereka mampu melakukan sesuatu yang luar biasa, yang mungkin dianggap manusia yang punya pola pikir konservatif tidak mungkin bisa dilakukan.
Bagaimana sebuah pola pikir kreatif dapat dibentuk? Dari beberapa website dan buku yang saya baca, saya menyimpulkan ada empat cara terpenting bagaimana cara membentuk sebuah pola pikir kreatif.
1. Berpikir sebuah peluang
Bagi mereka yang berpikir kreatif, mereka selalu berpandangan bahwa segala sesuatu mempunyai peluang untuk dilakukan. Mereka meyakini bahwa Tuhan selalu mengabulkan apa yang mereka inginkan ketika mereka telah memberikan kinerja terbaik mereka dalam hal kebaikan. Ketika orang lain berkata “Hal ini mungkin dilakukan, tapi sulit”, maka orang kreatif akan berkata “Hal ini sulit dilakukan, tapi mungkin”.Tidak jarang orang kreatif yang rela “mati-matian” menguras tenaga dan pikiran mereka untuk mewujudkan suatu hal yang dianggap tidak mungkin/sulit dilakukan bagi orang lain karena mereka optimis terhadap apa yang mereka lakukan.
2. Buang belenggu pola pikir konservatif
Betapa banyak manusia yang terjebak pada kebiasaan-kebiasaan yang telah organisasi lakukan di masa lalu. Tidak heran ketika muncul sebuah pernyataan “Kami hanya melakukan hal yang sama seperti apa yang telah dilakukan oleh pendahulu kami”. Hal ini sangat berbahaya karena orang-orang itu akan terbelenggu dengan sebuah kestatisan dan mereka akan terjebak dalam zona nyamannya. Mereka takut ketika mereka melakukan sebuah perubahan maka mereka merasa akan memasuki sebuah ketidakpastian. Beruntunglah bagi organisasi yang memiliki orang-orang kreatif didalamnya. Mereka berani melawan main stream pemikiran-pemikiran konservatif yang telah membelenggu kebanyakan orang didalam organisasi itu. Mereka berani keluar dari zona nyaman mereka karena mereka punya keyakinan bahwa berubah atau tidak, dunia ini memang tidak pasti. Orang-orang inilah yang biasa disebut pemikir “Out of the Box”.
3. Tambah wawasan Anda
Sebenarnya apa-apa yang dibuat manusia di dunia ini merupakan sebuah penyempurnaan dari kekurangan-kekurangan yang pernah dibuat oleh pendahulu mereka. Mereka menambah wawasan mereka dengan terus melakukan riset terhadap hal yang ingin disempurnakannya itu. Sama seperti pola pikir kreatif. Kreatif dapat dibentuk pula dengan penambahan wawasan. Tidak sedikit orang yang sukses berbisnis karena mereka terinspirasi oleh acara televisi yang mereka tonton. Tidak sedikit pula penulis buku yang mampu menulis berlembar-lembar halaman buku hanya dari sebuah peristiwa yang dia lihat. Untuk itu, tambahlah wawasan Anda untuk menambah kreativitas Anda.
4. Belajar dari Alam
Sesungguhnya Allah telah mengajarkan kepada kita semua didalam surah Ali Imran ayat 190 yang berbunyi sebagai berikut :
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal”
Bumi, langit, laut telah mengajarkan kepada kita banyak hal. Penemuan pesawat terbang terinspirasi dari burung yang dapat terbang, penemuan struktur bangunan yang baik terinspirasi dari sarang rayap yang buta, penemuan robot-robot pembantu manusia yang terinspirasi dari manusia itu sendiri, penemuan hukum gravitasi pun tidak lepas dari sebuah tanda Tanya Isac Newton terhadap jatuhnya apel dari pohon dan tidak jatuhnya bulan dari langit. Maka jika Anda ingin menambah daya kreativitas Anda, maka belajarlah dari alam. Tafakurilah alam raya sempurna ciptaan Allah ini, karena tidak ada kesia-siaan ciptaan Allah di dunia ini. Kita mampu mengambil pelajaran dari apa yang telah diciptakan Allah ini agar kita bisa lebih kreatif

PENDIDIKAN

Berbicara masalah pendidikan adalah masalah yang sangat kompleks karena menyangkut kepentingan halayak banyak orang. Jadi saya kurang sependapat jika pendidikan di bahas secara substansi . Sesuai dengan UUD 1945 menyatakan bahwa semua warga indonesia berhak mendapatan pendidikan yang layak. Berarti jika kita mengkaji lebih lanjut UUD tersebut bahwa kita mempunyai dukungan kuat secara hukum untuk mendapatkan pendidikan tanpa melihat status agama,sosial, ataupun yang lainnya. Sesuai pemaparan artikel di atas juga Ki Hajar Dewantara mengartikan sebuah konsep pendidikan adalah proses membebaskan manusia dan di perkuat menurut Drikarya memanusiakan manusia. Lalu bagaimana dengan pendidikan di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini. Kita tahu Sumber Daya Manusia di Indonesia cukup terbilang banyak tetapi ini juga yang menjadi bomerang kita di saat kita ingin berbicara tentang pendidikan. Sistem sekolah di Indonesia juga sangatlah luas dan bervariasi. Dengan lebih dari 50 juta siswa dan 2,6 juta guru di lebih dari 250.000 sekolah, sistem ini merupakan sistem pendidikan terbesar ketiga di wilayah Asia dan bahkan terbesar keempat di dunia (berada di belakang China, India dan Amerika Serikat). Dua menteri bertanggung jawab untuk mengelola sistem pendidikan, dengan 84 persen sekolah berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan sisa 16 persen berada di bawah Departemen Agama (Depag). Sekolah swasta pun memainkan peran penting. Walaupun hanya 7 persen sekolah dasar merupakan sekolah swasta, porsi ini meningkat menjadi 56 persen di tingkat menengah pertama dan 67 persen di tingkat menengah umum.

Tapi pertanyaannya sekarang efisien dan efektifkah ini ?

Ada 2 faktor umum yang menurut saya bisa menggambarkan secara gamblang permasalahan pendidikan di Indonesia :

Faktor Internal

Yaitu meliputi ajaran dunia pendidikan baik itu Departemen Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan daerah, dan juga sekolah. Faktor ini menyangkup interfensi dari pihak-pihak yang terkait. Kita ambil contoh saja guru, masalah metode pengajaran merupakan PR guru sebagai pendidik metode yang selama ini saya amati para guru hanya menyampaikan materi, memberi PR atau tugas,dan yang tereakhir Ujian atau ulangan. Tidak ada “follow up” dari pelajaran yang di ajarkan sehingga murid sebagai objek pendidikan hanya sekedar mengingat pelajaran dan tidak tahu aplikasi pelajaran yang diberikan tadi. Banyak juga cara-cara pengajaran yang monoton. Padahal kita telah hidup di zaman yang maju banyak cara dan fasilitas yang menunjang. Berkaca pada sistem pengajaran di luar negri yang membebaskan si anak untuk berkreasi di luar, jadi mereka membebaskan dulu si anak untuk mencari ilmu yang akan mereka pelajari jadi si anak di sini banyak mendapatkan hal-hal yang mereka tidak tahu maka itu akan memacu mereka untuk tahu dan out put-nya mereka bisa aktif pada saat pelajaran berlangsung. Si anak juga mendapatkan pelajaran terpenting lainnya yaitu bagaimana mereka berlatih untuk bersosialisasi terhadap lingkungannnya. Sehingga bisa melatih kepribadian dan moral si anak menjadi lebih peka terhadap lingkungan sekitarnya. Karna Indonesia memiliki orang yang kaya akan ilmu tapi ironinya hanya sedikit dari orang yang kaya akan ilmu itu kaya juga dalam hal moralitasnya. Pendidikan sebagai upaya penunjang pembangunan bangsa juga harus di dukung dari segi fasilitas nya. Karna masih banyak sekolah-sekolah pelosok desa yang tidak mendapatkan fasilitas seperti sekolah-sekolah di kota. Ketidak adilan ini juga menjadi PR besar untuk pemerintah kita.

Faktor Eksternal

Yaitu meliputi masyarakat pada umumnya yang merupakan ikon pendidikan dan merupakan tujuan dari adanya pendidikan yaitu sebagai objek dari pendidikan. Masayarakat di sini harus turut serta mengawal jalannya pendidikan supaya terjadi transparansi kebijakan seperti RAPBN pendidikan tahun 2009-2014 20% yang telah terealisasikan dan belum nantinya. Juga supaya tidak terjadinya “Jual Beli Pendidikan” yang akhir-akhir ini marak terjadi di negara kita.