Sabtu, 03 Juli 2010

PENDIDIKAN

Berbicara masalah pendidikan adalah masalah yang sangat kompleks karena menyangkut kepentingan halayak banyak orang. Jadi saya kurang sependapat jika pendidikan di bahas secara substansi . Sesuai dengan UUD 1945 menyatakan bahwa semua warga indonesia berhak mendapatan pendidikan yang layak. Berarti jika kita mengkaji lebih lanjut UUD tersebut bahwa kita mempunyai dukungan kuat secara hukum untuk mendapatkan pendidikan tanpa melihat status agama,sosial, ataupun yang lainnya. Sesuai pemaparan artikel di atas juga Ki Hajar Dewantara mengartikan sebuah konsep pendidikan adalah proses membebaskan manusia dan di perkuat menurut Drikarya memanusiakan manusia. Lalu bagaimana dengan pendidikan di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini. Kita tahu Sumber Daya Manusia di Indonesia cukup terbilang banyak tetapi ini juga yang menjadi bomerang kita di saat kita ingin berbicara tentang pendidikan. Sistem sekolah di Indonesia juga sangatlah luas dan bervariasi. Dengan lebih dari 50 juta siswa dan 2,6 juta guru di lebih dari 250.000 sekolah, sistem ini merupakan sistem pendidikan terbesar ketiga di wilayah Asia dan bahkan terbesar keempat di dunia (berada di belakang China, India dan Amerika Serikat). Dua menteri bertanggung jawab untuk mengelola sistem pendidikan, dengan 84 persen sekolah berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan sisa 16 persen berada di bawah Departemen Agama (Depag). Sekolah swasta pun memainkan peran penting. Walaupun hanya 7 persen sekolah dasar merupakan sekolah swasta, porsi ini meningkat menjadi 56 persen di tingkat menengah pertama dan 67 persen di tingkat menengah umum.

Tapi pertanyaannya sekarang efisien dan efektifkah ini ?

Ada 2 faktor umum yang menurut saya bisa menggambarkan secara gamblang permasalahan pendidikan di Indonesia :

Faktor Internal

Yaitu meliputi ajaran dunia pendidikan baik itu Departemen Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan daerah, dan juga sekolah. Faktor ini menyangkup interfensi dari pihak-pihak yang terkait. Kita ambil contoh saja guru, masalah metode pengajaran merupakan PR guru sebagai pendidik metode yang selama ini saya amati para guru hanya menyampaikan materi, memberi PR atau tugas,dan yang tereakhir Ujian atau ulangan. Tidak ada “follow up” dari pelajaran yang di ajarkan sehingga murid sebagai objek pendidikan hanya sekedar mengingat pelajaran dan tidak tahu aplikasi pelajaran yang diberikan tadi. Banyak juga cara-cara pengajaran yang monoton. Padahal kita telah hidup di zaman yang maju banyak cara dan fasilitas yang menunjang. Berkaca pada sistem pengajaran di luar negri yang membebaskan si anak untuk berkreasi di luar, jadi mereka membebaskan dulu si anak untuk mencari ilmu yang akan mereka pelajari jadi si anak di sini banyak mendapatkan hal-hal yang mereka tidak tahu maka itu akan memacu mereka untuk tahu dan out put-nya mereka bisa aktif pada saat pelajaran berlangsung. Si anak juga mendapatkan pelajaran terpenting lainnya yaitu bagaimana mereka berlatih untuk bersosialisasi terhadap lingkungannnya. Sehingga bisa melatih kepribadian dan moral si anak menjadi lebih peka terhadap lingkungan sekitarnya. Karna Indonesia memiliki orang yang kaya akan ilmu tapi ironinya hanya sedikit dari orang yang kaya akan ilmu itu kaya juga dalam hal moralitasnya. Pendidikan sebagai upaya penunjang pembangunan bangsa juga harus di dukung dari segi fasilitas nya. Karna masih banyak sekolah-sekolah pelosok desa yang tidak mendapatkan fasilitas seperti sekolah-sekolah di kota. Ketidak adilan ini juga menjadi PR besar untuk pemerintah kita.

Faktor Eksternal

Yaitu meliputi masyarakat pada umumnya yang merupakan ikon pendidikan dan merupakan tujuan dari adanya pendidikan yaitu sebagai objek dari pendidikan. Masayarakat di sini harus turut serta mengawal jalannya pendidikan supaya terjadi transparansi kebijakan seperti RAPBN pendidikan tahun 2009-2014 20% yang telah terealisasikan dan belum nantinya. Juga supaya tidak terjadinya “Jual Beli Pendidikan” yang akhir-akhir ini marak terjadi di negara kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar